Ekologi Gambut Kalimantan


Yayasan Bumi (26/11) mengadakan M3MACHINE #15 “Kuliah Umum Ekologi Gambut Kalimantan”. Bekerja sama dengan Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman, dilaksanakan di Gedung Bundar Kehutanan. Kuliah Umum tersebut bertujuan, pertama mendapatkan gambaran umum kondisi kawasan gambut Indonesia secara ekologis, bentukan edafik dan keanekaragaman hayatinya, kedua mengetahui komitmen pemerintah dan peran serta masyarakat dalam pengelolaan dan pelestarian gambut di Indonesia, khususnya di Kalimantan, ketiga memperoleh pendangan para pihak terhadap kondisi lahan gambut di Kalimantan Timur berkaitan dengan upaya perbaikan tata kelola dan pelestariannya.

Diskusi tersebut dihadiri 156 peserta diskusi kuliah umum dari berbagai latar belakang disiplin ilmu. Yayasan Bumi menghadirkan tiga (3) narasumber yakni, Ahmad Kurnain dari Ahli Gambut Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin sebagai narasumber utama, Akhmad Wijaya sebagai ahli etnografi, dan Rustam Fahmi sebagai ahli keanekaragaman hayati. Dalam kuliah umum tersebut, sesi pertama masing-masing narasumber menjelaskan terlebih dahulu sebagai pengantar diskusi, dan pada sesi kedua peserta dapat menanggapi.

Ahli Gambut memulai dengan pertanyaan “apa itu gambut?, gambut dapat di pahami dalam dua aspek, pertama gambut dapat dipahami sebagai ekosistem, kedua gambut dapat dipahami sebagai substrat.” Ungkap Kurnain sapaan Ahli Gambut yang juga tergabung dalam Badan Restorasi Gambut (BRG) tersebut.

Memahami gambut sebagai ekosistem tidak terlepas maknanya sebagai bagian dari unsur kehidupan makhluk hidup didalamnya. Sebagai ekosistem bermakna bahwa komponen yang terdapat bukan hanya tanah dan biosfer, melainkan juga terdapat aspek kehidupan manusia yang terkandung yang menjadi satu-kesatuan ekosistem tersebut.

“kedudukan Gambut harus dipandang dalam rangkaian ekosistem yang tersatukan, menyangkut satu sama lainnya” lanjut Kurnain.

Sedangkan gambut dipandang sebagai substrat dapat dipahami dari wujud seperti unsur tanah –tetapi bukan tanah, berwarna kehitam-hitaman, dan dari hasi vegetasi-vegetasi yang mengalami perombakan tidak sempurna. Jika melihat dari substansi gambut, terdapat serat-serat, patahan-patahan, potongan daun-duan kecil, dan terdapat proses dekomposisi serat-serat tumbuhan di lahan gambut.

Meski begitu, definisi terkait gambut bagi para ahli terdapat perbedaan, di Indonesia tidak terdapat perbedaan pandangan soal gambut, berbeda dengan literatur Inggris yang membedakan gambut dalam dua istilah, peat dan muck. Peat diihat sebagai bahan organik yang tidak berombak atau agak terombak, sehingga masih terlihat bagian-bagian tumbuhan semula. Sedangkan muck dilihat sebagai bahan organik yang terombak jauh, sehingga bagian-bagian tumbuhan semula tidak dikenali lagi.

Melanjutan pemaparan Kurnain, Akhmad Wijaya memaparkan peran dan manfaat gambut bagi kehidupan masyarakat lokal di Kaltim, “apa itu hutan (rawa) Gambut? Adalah hutan dengan lahan basah yang tergenang, biasanya terletak di belakang tanggul sungai” ungkap Wijaya memulai presentasinya.

Dalam skala besar, hutan ini membentuk kubah dan biasanya teletak di antara dua sungai besar. Hutan rawa Gambut terbentuk pada periode 10.000 – 40.000 tahun yang lalu. Terdapat 400 Juta Hektar (Ha) lahan gambut di Dunia. Indonesia sendiri mempunyai 20.6 Juta Ha atau 10.8% luas daratan Indonesia. Beberapa wilayah seperti Sumatera mencakup 35%, Kalimantan 32%, Sulawesi 3%, dan Papua 30%. Di Kalimantan Timur luas hutan rawa gambut mencapai kurang-lebih, 696.997 Ha, yang tersebar dibeberapa wilayah dengan tipologi yang berbeda-beda, terdapat di pesisir, dataran rendah dan dataran tinggi. Gambut dilihat dari fungsinya salah satunya adalah sebagai penyimpan kandungan “Karbon” tertinggi dibandingkan tipe hutan/lahan lainnya.

“cadangan penyimpanan karbon di lahan gambut mencapai 10-15 kali lipat dibandingkan tipe lain non gambut” sebut Wijaya.

Sebagai ahli Etnografi, kawasan Mahakam Tengah adalah salah satu wilayah peneliti Wijaya, sapaan akrabnya. Secara ekoregional, Mahakam Tengah yang berada di Kutai Kartanegara merupakan salah satu sistem sungai utama di Kalimantan. Semenjak ratusan tahun lalu, kawasan Mahakam Tengah berperan penting sebagai daerah resapan dan pengendali daerah aliran sungai Mahakam, dari limpasan air di wilayah hulu dan hilir Tenggarong maupun Samarinda.

“Kawasan ini (Mahakam Tengah) juga berperan penting secara sosial maupun ekonomi, sebagai wilayah tangkapan berbagai jenis ikan air tawar yang menjadi sumber penghidupan masyarakat asli Kutai, Dayak Tunjung dan pendatang Banjar di desa-desa sekitar Mahakam Tengah” urai Wijaya.

Bagi Wijaya, sapaan akrabnya masyarakat  khususnya pemerintah, perlu mempertimbangkan konservasi gambut di Mahakam Tengah. Secara sosiologis, sumber penghidupan masyarakat nelayan air tawar bergantung dari kelestarian gambut, selain itu juga berkaitan erat dengan penanganan konflik dalam pemanfaatan lahan. Secara teknis izin konsesi kebun yang tidak aktif dan sulit dalam realisasi tanamm karena gambut dalam, upaya konservasi dipandangan sebagai opsi yang paling rasional.

Pertimbangan ekologis juga turut serta menjadi perhatian dalam mempertahankan kelestarian keanekaragaman hayati dan ekosistem yang terancam punah. Secara ekonomi terdapat potensi “karbon” dari perlindungan gambut termaksud pembiayaan dari pihak yang berkepentingan dalam kerjasama internasional, selama persiapan dan implementasi dapat secara serius dilakukan.

Soal keanekaragaman hayati, Rustam menyambung pemaparannya “Indonesia memiliki kekayaan keanekaragaman hayati dengan berbagai jenis, termasuk dilahan gambut…” sapaan akrabnya.

Baginya gambut berfungsi sebagai penjaga habitat satwa liar dan menjaga kelestarian keanekaragaman hayati, penyimpan karbon, pengaturan tata air, penghasil kayu dan energi, sumber penghidupan masyarakat, ekowisata, dan pendidikan serta penelitian.

Dari pencarian data yang dia lakukan di lahan gambut setidaknya terdapat 60% mamalia di Kalimantan, 150 spesies burung, 15 spesies amfibi dan reptile, 9 spesies plankton, 20 spesies nekton dan 4 jenis benthos.

Selain itu, juga terdapat 28 spesies kupu-kupu dan 9 spesies capung. Dilahan gambut juga terdapat satwa khas seperti kura-kura, labi-labi, jenis ikan air tawa, buaya, serta burung air. Primata khas Kalimantan seperti Orangutan, Lutung Merah, Lutung Dahi Putih, Owa dan Bekantan. Mamalia lainnya seperti kucing, beruang, dan Ungulata (Rusa, Kijang, Kancil, dan Babi. Dikawasan gambut Kalimantan juga terdapat buaya Muara dan Sinyulong.

Rustam juga menyebutkan bahwa gambut sebagai kawasan yang dilindungi  tidak terlepas dengan ancaman alih fungsi hutan. Maka tidak heran gambut menjadi isu internasional terkait perubahan iklim, dan menganggap bahwa gambung sebagai ekosistem yang penting. Dan diakhir pemaparan menegaskan bahwa gambut “sekali rusak tidak ada peluang kembali!” tegas Rustam. (R)